Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Masjid Cheng Ho Sriwijaya Palembang


Palembang, Sumatera Selatan, ramapung pada (22/08/08) lalu kali pertama masjid dengan arsitektur Tionghoa itu digunakan untuk salat Jumat.
Diperkirakan, 1.500 muslim Palembang akan memadati masjid yang berlokasi di Perumahan Amen Mulia, Jakabaring, tersebut. Wakil Wali Kota Palembang H Romi Herton pun dijadwalkan ikut salat berjamaah di masjid itu. “Sebelum salat Jumat, kami adakan selamatan,” ungkap Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumsel H. Ahmad Afandi setelah salat Magrib.
Paduan Budaya China - Palembang yang Diabadikan
Keberadaan Laksamana Cheng Ho tak dipisahkan dari Palembang. Sejak melakukan pelayaran mengelilingi dunia, Cheng Ho sempat tiga kali datang ke Palembang.
SEJARAWAN Palembang Djohan Hanafiah mengatakan, Laksamana Cheng Ho pernah bertugas memburu para bajak laut Chen Tsu Ji di daerah maritim Palembang pada 1407. Kegagahan dan kebesaran Panglima Cheng Ho menumpas para bajak laut ganas melekat di hati masyarakat Palembang.
”Kendati tidak meninggalkan bekas seperti gedung atau mesjid, tetapi perkembangan Islam di Palembang, khususnya bagi para pendatang dari China, tidak bisa dipisahkan. Karena diketahui, perpaduan unsur budaya Palembang dan China cukup kental di sini,” ungkap Djohan.
Dalam penyebaran Islam di Indonesia, selain dilakukan para pedagang dari Arab dan sekitarnya, ternyata para pedagang asal Tionghoa ikut berperan menyebarkan Islam di daerah pesisir Palembang. Di sini pula peran Laksamana Cheng Ho dalam menyebarkan Islam di Palembang.
Armada Cheng Ho sebanyak 62 buah kapal dan tentara yang berjumlah 27.800 yang dipimpinnya itu pernah empat kali berlabuh di pelabuhan tua di Palembang. Pada 1407 Kota Palembang yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya pernah meminta bantuan armada Tiongkok yang ada di Asia Tenggara untuk menumpas perampok-perampok Tionghoa Hokkian yang mengganggu ketenteraman.
Kepala perampok Chen Tsu Ji tersebut berhasil diringkus dan dibawa ke Peking. Semenjak itu, Laksamana Cheng Ho membentuk masyarakat Tionghoa Islam di Kota Palembang yang memang sudah ada sejak zaman Sriwijaya banyak didiami orangorang Tionghoa. Gerombolan perompak yang dipimpin Chen Tsu Ji, sebenarnya bekas seorang perwira angkatan laut China asal Kanton.
Dia melarikan diri ketika Dinasti Ming berkuasa. Pelariannya berlabuh di Palembang. Kedatangannya ke Palembang telah membuat resah para pedagang yang singgah. Sebab, Chen Tsu Ji membawa ribuan pengikutnya dan membangun basis kekuasaan di Palembang, atau dalam bahasa China, po-lin-fong, yang berarti ”pelabuhan tua.”
Selama berkuasa di Palembang, Chen Tsu Ji menguasai daerah sekitar muara Sungai Musi, perairan Sungsang, dan Selat Bangka. Anak buah Chen Tsu Ji merompak semua kapal yang melintasi perairan itu. Kebetulan atau tidak, daerah-daerah itu sampai kini jadi kantung-kantung bandit Palembang.
Selama perjalanan Cheng Ho antara 1405–1433 M, dia pernah empat kali ke Palembang. Tahun 1407 masehi, armada Cheng Ho mampir ke Palembang dalam rangka menumpas perompak yang dipimpin Chen Tsui Ji tersebut. Kemudian, pada tahun 1413–1415M, 1421–1422M, dan tahun 1431–1433 M, armada Cheng Ho berlabuh ke Palembang. ”Setelah memberantas para perampok, Laksamana Cheng Ho berlabuh hingga tiga kali ke Palembang. Namun, tidak ada yang tahu maksud dan tujuannya,” jelas dia.
Menurut Djohan, tidak ada seorang pun tahu maksud kedatangan armada Cheng Ho ke Palembang seusai memberantas para perompak tersebut. Namun, para sejarawan sempat menuliskan kedatangannya yang disambut meriah para penduduk. Meskipun empat kali berlabuh, tidak satu pun jejak yang ditinggalkan Cheng Ho di Palembang.
”Kemungkinan ada peninggalan seperti manuskrip dan lainnya. Tapi tidak terdata secara signifikan,” jelas Djohan. Sejak kedatangannya itu, beberapa orang pengikut Cheng Ho akhirnya menetap di Palembang dan menyebarkan Islam. Untuk mengenang kebesaran Cheng Ho sebagai seorang muslim, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumsel membangun Masjid Islam Cheng Ho Sriwijaya di kawasan Jakabaring, Palembang.
Kenyataan tidak bisa dipungkiri, minoritas Tionghoa muslim di Sumsel kini berjumlah sekitar 4.000 orang. Sekitar 2.000 orang lebih muslim Tionghoa telah lama menetap di Palembang. Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PIPI) Sumsel Herryanto mengatakan, berlatar belakang dari konsep mempererat persaudaraan antarmuslim dalam naungan ukhuwah Islamiah serta mengenang jasa Laksamana Cheng Ho itulah Masjid tersebut diberi nama Muhammad Cheng Ho.
”Islam tidak mengenal perbedaan budaya, ras, dan warna kulit. Hal itu telah dipraktikkan Cheng Ho dalam kehidupannya,” kata Herryanto. Semangat dakwah Islamiah itu juga akan diwujudkan dalam bentuk pusat belajar empat bahasa, yakni bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, dan bahasa Arab di masjid tersebut.
”Kita semua tahu keteladanan hidup seorang Laksamana Cheng Ho. Dia orang besar yang telah memberi inspirasi bagi para muslim untuk terus mengembangkan semangat dakwah Islamiah,” kata Herryanto. Pembangunan masjid baru 80%, dan masih membutuhkan dana yang cukup besar untuk menyelesaikannya. Masjid Muhammad Cheng Ho dapat menjadi sebuah simbol persatuan dan persaudaraan muslim di Palembang.
Sumber: jawapos.com; yulian.firdaus.or.id

Menyongsong Fajar di Plaza BKB


Menyongsong Fajar di Plaza BKB



PAGI itu di hari pertama bulan Ramadan. Fajar baru menyingsing, matahari pun seakan masih enggan menampakkan diri. Bahkan hamparan Sungai Musi yang memisahkan Seberang Ulu dan Ilir masih terlihat sayup-sayup mengalir. Namun barisan remaja dan anak-anak nampak bersorak gembira meramaikan beberapa tempat di pusat Kota Palembang. Bundaran Air Mancur, Jembatan Ampera, Kambang Iwak dan Benteng Kuto Besak (BKB) tak luput dari suara gemuruh mereka.

Seperti biasa, kehadiran bulan Ramadan nun penuh berkah selalu disambut gembira kaum muslimin di dunia, termasuk wong kito Palembang. Berbagai aktivitas dan kegiatan pun digelar seiring berjalannya waktu menempa diri di bulan puasa itu. Tak terkecuali jalan-jalan santai usai melaksanakan salat subuh atau yang dikenal banyak orang dengan asmara subuh.

Entah dari mana sebutan itu muncul. Tapi itulah kalimat yang identik dengan perjalanan santai muda-mudi remaja menjelang pagi hari setelah sahur. Meskipun pada kenyataannya aktivitas itu juga tidak hanya dilakukan remaja saja. Anak-anak kecil hingga orang dewasa pun tidak sedikit ada di barisan mereka.

Kegiatan yang sudah menjadi tradisi tahunan ini pun kembali mewarnai kedatangan Ramadan 1431 Hijriah, Rabu (11/8) subuh. Ribuan warga dari berbagai kalangan usia, sejak pukul 04.30 ramai mendatangi pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) dan Jembatan Ampera. Lalu apa sebenarnya asmara subuh itu, dan mengapa banyak warga yang gemar melakukannya? Rini, salah satu remaja kelas 3 SMP mengaku sangat senang bisa menjalani aktivitas tersebut. Bersama teman-temannya yang lain ia berangkat dari rumah sekitar pukul 04.30, berjalan menuju pelataran Benteng Kuto Besak (BKB). Ia sendiri tidak menyadari manfaat yang didapat melalui asmara subuh. Namun lantaran sudah menjadi kebiasaan, meski tanpa komando ia terpanggil menjadi bagian dari aktivitas itu.

“Sepengetahuan saya, asmara subuh itu identik dengan orang berpacaran. Tapi mas bisa lihat sendiri di antara ribuan orang di sini hanya beberapa saja yang pacaran. Kami sih niatnya lebih ke olahraga,” tukasnya.

Apa yang dikemukakan remaja asal Tanggabuntung ini, cukup menjadi bukti kalau ternyata asmara subuh itu tidak hanya diikuti remaja yang berniat bertemu dan pacaran semata. Sebab sebagian besar dari mereka melakukannya dengan alasan olahraga dan mengikuti tradisi yang sudah ada sejak lama.

“Sederhananya, kita ada di sini cuma sekedar jalan-jalan dan bertemu kawan-kawan. Lagi pula habis makan sahur udah nanggung kalau mau tidur. Mending jalan sekalian olahraga,” kata Arif salah seorang lainnya. (eko)

Fase Kesultanan Palembang Darussalam

Hancurnya Majapahit di Jawa secara tidak langsung memberikan andil pada kekuatan lama hasil dari Ekspedisi Pamalayu di Sumatera. Beberapa tokoh penting di balik hancurnya Majapahit seperti Raden Patah, Ario Dillah (Ario Damar), dan Pati Unus merupakan tokoh-tokoh yang erat kaitanya dengan Palembang. Setelah Kesultanan Demak yang merupakan pengganti Majapahit di Jawa berdiri, di Palembang tak lama kemudian berdiri pula Kesultanan Palembang Darussalam dengan "Susuhunan Abddurrahaman Khalifatul Mukmiminin Sayyidul Iman" sebagai raja pertamanya. Kerajaan ini mengawinkan dua kebudayaan, maritim peninggalan dari Sriwijaya dan agraris dari Majapahit dan menjadi pusat perdagangan yang paling besar di Semenanjung Malaka pada masanya. Salah satu raja yang paling terkenal pada masa ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin II yang sempat menang tiga kali pada pertempuran melawan Eropa (Belanda dan Inggris).
Setelah jatuhnya Kesultanan Palembang Darussalam pasca kalahnya Sultan Mahmud Badaruddin II pada pertempuran besar yang melibatkan Jendral de Kock, Palembang nyaris menjadi kerajaan bawahan. Beberapa sultan setelah Sultan Mahmud Badaruddin II yang menyatakan menyerah kepada Belanda, berusaha untuk memberontak tetapi kesemuanya gagal dan berakhir dengan pembumihangusan bangunan kesultanan. Setelah itu Palembang dibagi menjadi dua keresidenan besar, dan pemukiman di Palembang dibagi menjadi daerah Ilir dan Ulu.
Prasasti Kedukan Bukit berangka 682 Masehi merupakan prasasti tertua yang ditemukan di Palembang. Prasasti ini menceritakan adanya pasukan besar yang datang dari Minanga Tamwan dengan perasaan suka cita. Sejarawan merujuk angka pada prasasti ini sebagai hari lahir Sriwijaya, walaupun kemungkinan Palembang telah menjadi ibukota kerajaan sebelum tahun tersebut.

Pada periode 850 - 1025 Masehi, Palembang merupakan kota terkaya di Asia Tenggara, hal ini seiring dengan kemakmuran perdagangan Kerajaan Sriwijaya. Selain menjadi pusat perdagangan Timur Jauh, pada masa ini Palembang juga menjadi pusat pengajaran agama Buddha. Para pelajar dari Tiongkok banyak singgah di kota ini untuk mempelajari agama Buddha sebelum melanjutkannya di India.

Pada tahun 990, Dharmawangsa dari Kerajaan Medang menyerang Palembang. Pada penyerangan ini istana kerajaan diserbu dan Palembang luluh lantak. Namun Culamanivarmadeva, raja yang berkuasa ketika itu, dapat menguasai keadaan dan memukul balik pasukan Jawa untuk kembali ke Medang. Palembang yang makmur itu kembali mendapat serangan dari pihak asing. Rajendra Chola dari Kerajaan Chola menjarah Palembang pada tahun 1025. Setelah menghancurkan Palembang dan menawan rajanya, pasukan Chola menjarah harta kerajaan yang melimpah ruah sebagai rampasan perang.

Dengan penyerangan ini situasi kerajaan tidak terkendali yang berakibat pindahnya ibukota Sriwijaya ke Jambi. Sejak kepindahan ini Palembang hanya menjadi kota pelabuhan sederhana yang tidak berarti lagi bagi para pedagang asing. [4]
Setelah keruntuhan Sriwijaya, tidak ada kekuasaan besar yang mengendalikan kota. Pada masa itu di Palembang dan sekitarnya bermunculan kekuatan-kekuatan lokal seperti kelompok Panglima Bagus Kuning di hilir Sungai Musi, kelompok Si Gentar Alam di daerah perbukitan, kelompok Tuan Bosai dan Junjungan Kuat di daerah hulu Sungai Komering, kelompok Panglima Gumay di sepanjang Bukit Barisan, dan sebagainya.[rujukan?] Selain itu beberapa pedagang Tiongkok menjadikan kota ini sebagai pangkalan perdagangan mereka. Orang Laut juga menjadikan Palembang sebagai markas mereka sebagai bajak laut.

Pada fase inilah muncul pangeran Sriwijaya yang terakhir, Parameswara. Setelah penyerangan Majapahit ke Palembang, Parameswara bersama Sang Nila Utama pergi melarikan diri ke Tumasik. Di sana ia membunuh gubernur Tumasik yang berkebangsaan Thai. Sewaktu pasukan Thai akan menyerang Tumasik, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka di Semenanjung Malaya, dan mendirikan Kerajaan Malaka. Parameswara memeluk Islam untuk menikahi putri Samudera Pasai dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah. Malaka berkembang pesat pada abad ke-15 sehingga Parameswara menjadi sebagai penguasa tunggal perairan Selat Malaka dan sekitarnya, bahkan Palembang akhirnya berada di bawah pengaruhnya.
Kota Palembang adalah salah satu kota besar di Indonesia yang juga merupakan ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Palembang merupakan kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Kota ini dahulu pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya, sebelum kemudian berpindah ke Jambi. Bukit Siguntang, di bagian barat Kota Palembang, hingga sekarang masih dikeramatkan banyak orang dan dianggap sebagai bekas pusat kesucian di masa lalu.

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan dari prasasti Kedukan Bukit yang diketemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 682 Masehi[2]. Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Kota ini diserang beberapa kali oleh kekuatan asing, dimana kerusakan terparah terjadi saat penyerangan pasukan Jawa tahun 990 dan invasi kerajaan Chola tahun 1025. Namun sekarang kota ini tengah berbenah dan semakin mempercantik diri untuk menjadi sebuah kota internasional.

Kota Palembang sendiri sampai saat ini menjadi pusat wisata air terindah yang berjuluk "Venice of the East".
Kota Palembang telah dicanangkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai "Kota Wisata Air" pada tanggal 27 September 2005. Presiden mengungkapkan bahwa Palembang dapat dijadikan kota wisata air seperti Bangkok di Thailand dan Phnom Penh di Kamboja. Tahun 2008 Kota Palembang menyambut kunjungan wisata dengan nama "Visit Musi 2008".
top