10 PB Tinjau Venues SEA Games 2011

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Beberapa hari setelah kunjungan Wapres RI Prof Dr Boediono dan Menpora Dr Andi Alfian Mallarangeng, kini giliran 10 Pengurus Besar (PD) Olahraga, Kamis (27/1) memantau beberapa venues SEA Games XXVI di Jakabaring. Para pengurus besar ini optimis, pembangunan venues selesai pada waktunya.

Rombongan Pengurus Besar Cabang Olahraga ini dipimpin Staf Ahli Kemenpora Bidang Infokom, Sakhyan Asmara tiba di Palembang pukul 10.00-16.00 di Bandara Internasional SMB II Palembang.

Selanjutnya, pengurus besar, seperti menembak (Perbakin), senam, aquatic (polo air, renang, renang indah), panjat tebing, tinju, angkat besi, atletik, voli indoor dan sepak takraw langsung memantau Jakabaring, GOR Kampus, Basket Indor dan Kolam Renang Lumban Tirta. Mereka juga meninjau pembangunan wisma atlet yang
berada satu kawasan di Jakabaring.

Untuk wisma atlet dan bangunan venues lainnya, Sakhyan Asmara sangat optimis selesai tepat waktu dan mampu menampung 3000 lebih atlet. Lantas, ia pun membandingkan dengan pembangunan Hotel Mulia di Jakarta dengan tinggi 32 Lantai di Tahun 1997 lalu, dimana saat Jakarta sebagai tuan rumah SEA Games.

"Anda tahu, hotel setingggi itu bisa selesai delapan bulan. Semua selesai lengkap dengan lift dan tangga eskalatornya sehingga dipakai untuk SEA Games," katanya.

"Sementara wisma atlet Jakabaring hanya empat lantai, lima bulan bisa selesai dibangun," kembali ditegaskan Sakhyan dengan nada optimis.

Sementara beberapa pengurus PB yang ikut dalam peninjauan kemarin optimis dengan venues yang saat ini sedang dikerjakan akan selesai tepat waktu.

"Kita sangat yakin, karena sudah mendapat penjelasan langsung dari pengembangnya, apalagi yang mengerjakan juga merupakan mitra dari FINA selaku induk olahraga aquatic dunia," ujar Ami, pengurus dari Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) di area Jakabaring.

Pihaknya merencanakan akan menggelar Kejuaraan Asia yunior pada 29 September hingga 6 Oktober mendatang.

"Sesuai progress, bulan Juli bangunannya selesai, Agustus kolam renang sudah bisa digunakan, bahkan usai SEA Games sendiri kita juga telah merencanakan Indonesia Open di satu-satunya kolam renang indoor di tanah air ini," jelasnya.

Sementara itu, perwakilan dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Hendri mengatakan meskipun pembangunan venues saat ini belum dimulai, namun pihaknya optimis tidak akan menganggu persiapan pertandingan.

"Pengalaman kita, untuk membangun lintasan panjat tebing hanya memakan waktu 3 bulan, apalagi pengerjaan juga dilaksanakan secara bersamaan. Yang penting lokasinya tidak berubah lagi," jelasnya.

Ia mengatakan venues panjat tebing akan berada di depan venues lapangan tenis.

Editor: Antonius Bramantoro | Sumber: Sriwijaya Post
BANDUNG, Kompas.com - Sebanyak sepuluh petarung Thailand yang disiapkan berlaga di ajang eksibisi SEA Games XXVI/2011 menjalani latihan di Kawah Derajat, Pusat Latihan Olahraga Tarung Derajat di Kota Bandung.

"Tim Thailand sudah tiba di Bandung, mereka akan menjalani latihan mulai Sabtu besok di Kawah Derajat. Mereka datang untuk berlatih dan mengenal tempat kelahiran olagraga ini," kata Guru Utama Tarung Derajat, GHA Ahmad Derajat di Bandung, Jumat (28/1/11).

Atlet Thailand yang berjumlah sepuluh orang itu terdiri dari tujuh atlet putra dan tiga atlet putri. Selain itu mereka didampingi oleh manajer dan pelatih tim.

Rencananya, petarung asal "Negeri Gajah Putih" itu akan berlatih di Kawah Derajat atau pusat pelatihan Tarung Derajat di kawasan Antabaru Kota Bandung hingga 10 Februari 2011 mendatang. Mereka juga akan melakukan uji tanding melawan atlet-atlet terbaik Tarung Derajat.

Selain itu, tim Thailand juga akan memboyong dua pelatih Tarung Derajat untuk melatih atletnya mempersiapkan tim menjelang pertandingan SEA Games 2011. Cabang Tarung Derajat yang menjadi cabang eksebisi rencananya akan digelar di Jakarta.

"Mereka akan melakukan aklimatisasi dan pendalaman latihan di Bandung ini. Mereka diharapkan memiliki teknik dan kemampuan yang lebih baik sehingga selain bisa berprestasi di SEA Games XXVI/2011 juga bisa menularkannya kepada atlet lainnya di Thailand," kata GHA Ahmad Derajat yang akrab dipanggil Aa Boxer itu.

Selain Thailand, tiga negara peserta eksibisi Tarung Derajat pada SEA Games 2011 lainnya yang akan berlatih di Bandung adalah petarung Vietnam dan Malaysia.

"Antusiasme negara ASEAN untuk turun di Tarung Derajat luar biasa, bahkan mereka menyatakan akan menjalani latihan beberapa hari di Bandung. Ini sebagai silaturahmi mereka mendatangi tempat kelahiran Tarung Derajat, mengenal lebih dekat termasuk mempelajari teknik-teknik langsung di sini," katanya.

Sementara itu Pengurus Pusat Tarung Derajat berupaya maksimal untuk menjadikan cabang olahraga itu dipertarungkan pada SEA Games XXVI.

Masuknya Tarung Derajat menjadi cabang eksibisi merupakan sebuah langkah maju dan peluang emas untuk membuktikan cabang olahraga yang lahir di Indonesia itu layak dipertandingkan sebagai cabang resmi kegiatan olahraga itu.

"Selain di SEA Games XXVI/2011, kami juga akan melobi tuan rumah SEA Games XXVII/2013 untuk menjadikan Tarung Derajat dipertandingkan dan menjadi cabang resmi," katanya.

Salah satu upaya antara lain dengan melakukan pembentukan pengurus atau top organisasi di sejumlah negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Timur Leste, serta yang lainnya. Selain itu, juga menyebar sejumlah pelatih untuk melatih di luar negeri.

Elite track cyclists to stay away from SEA Games

PETALING JAYA: Malaysia will not send their elite track cyclists for the Indonesia SEA Games in November although a clean sweep of the gold medals in the men’s event is possible.
With elite cyclists like Azizulhasni Awang, Josiah Ng and Rizal Tisin in their ranks, it won’t take much for Malaysia to dominate the proceedings.

But the Malaysian National Cycling Federation (MNCF) prefer more challenging tasks for their riders.
MNCF deputy president Datuk Naim Mohamad also felt the same, adding that he strongly supported Youth and Sports Minister Datuk Seri Ahmad Shabery Cheek’s suggestion that athletes for the Road to London programme focused on the 2012 Olympics than participating in the SEA Games.

Naim, in fact, prefers to use the SEA Games as a platform to expose the back-up riders.
“Cyclists who excel at the SEA Games should then move on to higher continental and world competitions. We should send our back-up riders to the SEA Games and let our elite cyclists focus on qualifying for the Olympics.

Naim pointed out that the SEA Games, to be held from Nov 11-20, would clash with the World Cup meets in Australia and Colombia for the 2011-2012 season.

“These two World Cup meets offer valuable qualifying points towards the Olympics. The qualifying process has already started and we are working hard to meet the objectives of getting representation in all the sprint disciplines on the track,” he said.

Track cycling was last held at the Korat SEA Games four years ago, with Malaysia bagging all four gold medals in the sprint disciplines.



Star

Rita: SEA Games Jadi Momen Kebangkitan!

Editor: Aloysius Gonsaga Angi Ebo

MANADO, KOMPAS.com — Ketua Umum KONI Pusat Rita Subowo mengatakan, ajang SEA Games 2011 di Indonesia akan menjadi momentum kebangkitan prestasi olahraga Tanah Air di kawasan Asia Tenggara.

"Kita harus merebut kembali supremasi olahraga itu dengan menjadi juara umum SEA Games tahun 2011," kata Rita saat melantik pengurus KONI Sulawesi Utara di Manado, Selasa (25/1/2011).

Pada pesta olahraga dua tahunan itu Indonesia sudah cukup lama tidak berprestasi tinggi dengan menjadi juara umum. Sejauh ini negara tetangga, Thailand, lebih mendominasi.

Pada SEA Games 2005 di Filipina dan 2007 di Thailand, Indonesia hanya menduduki peringkat keempat dan terburuk dalam sejarah olahraga di Asia Tenggara. Kemudian, pada SEA Games 2009 di Laos, Indonesia bisa memperbaiki posisinya ke peringkat ketiga.

"Agenda utama KONI yakni melakukan konsolidasi yang lebih optimal sehingga ada upaya pembenahan prestasi bidang olahraga menjadi lebih baik," ujarnya.

Sejumlah program pembinaan olahraga berprestasi yang sudah dicanangkan pemerintah dan KONI, seperti pelatnas dan Indonesia Emas Prima, bisa memberikan hal nyata dan positif bagi pengembangan olahraga di semua cabang yang ada.

Rita mengakui, kurangnya prestasi olahraga di Indonesia memang disebabkan keterlambatan regenerasi di semua cabang olahraga.

"Yang harus kita bangkitkan sekarang adalah kelompok remaja karena mereka yang menjadi tulung punggung prestasi di kemudian hari sehingga akan dilaksanakan PON remaja," ujarnya.

Kemudian, KONI telah mencanangkan delapan sentra pengembangan olahraga dari 33 provinsi di Indonesia dengan pengembangan prestasi khusus cabang olahraga unggulan sesuai dengan keunggulan setiap daerah.
Sumber :
ANT
Share

*
*
*
*
*
*
*
sumber http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=53850:sea-games-2011-nomor-pertandingan-disetujui-berkurang&catid=28:sports&Itemid=56

Deputi I Indonesia SEA Games Olympic Committee (INASOC) yang menangani pengembangan olahraga dan venue Djoko Pramono memastikan bahwa permintan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alifian Mallarangeng untuk mengurangi nomor pertandingan SEA Games di bawah 500 nomor telah dapat terpenuhi.


Kepastian tersebut didapat setelah INASOC melakukan rapat dengan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Rita Subowo. Semula KONI telah mengajukan sebanyak 577 nomor agar dapat dipertandingkan.


Namun jumlah tersebut dinilai cukup banyak, karena saat SEA Games 2007 di Thailand maksimal nomor yang dipertandingkan adalah 476 nomor."Untuk urusan nomor dapat kita pastikan terpenuhi kurang dari 500 nomor. Jumlah persisnya tidak perlu kita beritahukan karena masih menunggu hasil dari Rapat Dewan SEA Games di Bali Februari mendatang," kata Deputi I INASOC Djoko Pramono ditemui di gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Senayan, awal pekan kemarin.


Dia mengatakan hendaknya urusan nomor ini telah diselesaikan sejak setahun lalu agar negara peserta dapat menyiapkan diri. "Selama ini banyak keluhan dari negara peserta yang menanyakan kepastian soal nomor ini. Jangan sampai urusan nomor diumumkan enam bulan sebelumnya. Bisa-bisa kita dikatakan licik," ucap Djoko.


Setelah urusan jumlah nomor ini selesai, maka nomor-nomor ini tinggal dikirimkan ke negara-negara peserta SEA Games dan kita juga bisa langsung fokus mempersiapkan tim."Semua persoalan sudah beres, tidak ada masalah lagi dan kehendak pimpinan sudah dipenuhi. Dengan pengurangan nomor ini tidak ada yang dirugikan karena kita memiliki peran cukup besar di Rapat Dewan SEA Games nanti," ujar Djoko.



Jurnas | Global | Jakarta
NASIB sama mungkin menimpa sukan lain dan Majlis Olimpik Malaysia (MOM) menyatakan, lumrah negara tuan rumah menukar serta mengurangkan jumlah pingat atau acara yang bakal dipertandingkan di Sukan Sea.
Setiausaha Kehormat MOM, Datuk Sieh Kok Chi berkata, setiap negara penganjur pastinya akan mengubah beberapa perkara yang biasanya mendatangkan kelebihan kepada mereka untuk menang.

Katanya lagi, namun setiap perkara yang diubah itu, seperti yang berlaku terhadap sukan gimnastik sekarang ini tidak melanggar peraturan dan ia sah.
“Sekiranya Malaysia berpeluang menganjurkan temasya Sukan Sea pada 2019, pastinya kita melakukan perkara sama dan melaksanakan sedikit perubahan. Kali terakhir kita menjadi tuan rumah adalah pada 2001 dan kita lakukan beberapa perubahan pada waktu itu.

“Sebagai penganjur, negara yang terbabit mempunyai hak untuk mengubah, mengurangkan atau menambah jumlah pingat malah boleh menyingkirkan terus mana-mana acara. Oleh itu, kita dan negara lain perlu menghormati kuasa tuan rumah,” katanya, semalam.

Arena Metro, semalam, melaporkan Persekutuan Gimnastik Malaysia (MGF) menerima khabar negatif apabila diberitahu jumlah pingat emas acaranya akan dikurangkan dari 24 ke 17, di temasya Sukan Sea, Indonesia, November ini.

Perkara itu dibantah negara Konfederasi Gimnastik Asia Tenggara (Seagcon), termasuk Malaysia, yang menganggap tindakan itu tidak adil dan berusaha mengekalkan jumlah sedia ada.

Mengulas lanjut, Kok Chi berkata, setakat ini pihaknya menerima khabar ia hanya membabitkan acara gimnastik.



MyMetro
With less than nine months to go to the 26th Southeast Asian Games (SEA Games) to be held from Nov. 11-25, 2011 in Palembang, Indonesia, it might be good for us to objectively and clinically take stock of where we are and where we could possibly end using available hard data. These data were culled from the results of the Guangzhou Asian Games held in Nov. 2010 where all 11 Southeast Asian nations competed against 34 other countries that included Asian giants like China, Japan and the two Koreas.

The performance of the other ASEAN countries in Guangzhou should trigger warning signals since it would be a tremendous challenge to raise the performance of Filipino athletes with less than a year to go.

There are about 562 events in 44 sports in the 26th SEA Games. Examining the results of those sports that were in the Asian Games and where ASEAN countries won the gold, silver and bronze medals over their Asian counterparts may be instructive.

Indonesia, which will host the SEA Games for the fourth time, the last time in 1997, is expected to capture the over-all championship. As host, Indonesia was given the privilege of introducing or reintroducing sports where it presumably has the biggest chance of winning the gold medal. In the SEA Games Federation Council Meeting held in Hotel Mulia, Jakarta in May 2010, part of which I attended, Indonesia proposed to include, among others, paragliding, wall climbing, bridge and soft tennis.

In Guangzhou, the Indonesians won three gold medals in dragon boat while Myanmar and Thailand won three silvers and two bronzes, respectively. The Indons also won one gold medal in badminton and three bronzes, while Malaysia won two silvers.

Vietnam, which has continued to amaze Southeast Asia, may most likely end up in second place. It won a gold, silver and bronze in Asian Games karate. Vietnam also captured three silvers and four bronzes in wushu and four bronzes in taekwondo. The Vietnamese served notice of their ascension as an athletics power by capturing three silvers and two bronzes in China.

Thailand, armed with a booming economy despite the political instability it suffered last year, is expected to battle Vietnam for second spot. The Thais won four golds in sepak takraw. Thailand also did well in sailing (three golds and one silver), taekwondo (one gold, two silver and four bronzes) and athletics (one gold and one bronze).

The Thais could also be considered gold medal threats in dragon boat, wushu and cycling.

The Malaysians, who could land fourth overall, are expected to dominate squash: they won three golds and one bronze in Guangzhou. Malaysia also crowded the gold medalists in the diving competitions in Guangzhou by winning four silvers and five bronzes. 

The same situation occurred in sepak takraw (one silver) and sailing (two silvers and one bronze). Malaysia should also be considered the favorite in cycling after having won one gold and one silver in the Asian Games. Malaysia should also produce podium finishes in bowling having won two golds, one silver and one bronze in Guangzhou.


Painful as it may be, the Philippines (population 100 million) may end up contesting fifth place against tiny city-state Singapore (population three million) for fifth place overall. Singapore won one gold, three silvers and one bronze in bowling in China. Swimming has been a rich hunting ground for the Singaporeans in all past SEA Games. In China, Singapore netted one gold and one silver despite the Chinese, Japanese and Korean juggernaut.

The Philippines should win men’s and women’s basketball, baseball and softball handily to get four gold medals from these sports. Fencing, judo, wrestling, tennis, golf and chess should account for two each while billiard and boxing may bring home four gold medals each. Athletics, swimming and taekwondo should win five, four and two gold medals, respectively. The total of all these efforts is 35 gold medals. If we add another five for “unexpected” golds, our grand total will be 45, probably good for fifth overall. These additional 10 could come from sports like chess: our national team is probably the strongest in the region and should be the most productive if managed properly. The same thing goes for billiards where we have the world’s best in eight ball and nine ball. Retirements in swimming and bowling may however result in a lower gold medal count.

In the 1995 Chiang Mai Games, about 40 golds was good for third overall. In 1997 in Jakarta, 40 golds was good only for fourth.

Things have changed and we have to catch up lest we suffer the treadmill effect which is to run just to stay in place and not to fall off the machine.


 SPORTS FOR ALL By Philip Ella Juico (The Philippine Star)
top