KONI Sumsel Siapkan Gedung Sekretariat SEA Games

Laporan Wartawan Sriwijaya Post, M Husin
TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Ketua KONI Sumsel, Muddai Madang menjelaskan, pihaknya juga telah menyiapkan Sekretariat SEA Games XXVI yang cukup representatif dengan menggunakan gedung baru 15 lantai milik Bank Sumsel Babel di kawasan Jakabaring Sport City (JBC).

“Memang gedung ini sesuai arahan bapak Gubernur Sumsel usai selesai dibangun belum boleh digunakan terlebih dahulu dan akan menjadi kantor sekretariat panitia SEA Games XXVI,” jelasnya.

Muddai menjelaskan, nantinya seluruh negara peserta akan memiliki kantor sendiri di lantai gedung ini. “Kantor 11 negara peserta kita tempatkan di lantai 4 dan pusat penyiaran SEA Games akan berada di lantai 5. Kegiatan press conference atau official meeting berada di lantai 1. Kita juga siapkan akses internet, food court untuk menunjang aktifitas para jurnalis peliput nantinya,” ujarnya.

Saat ini progress pembangunan gedung ini sendiri sudah mencapai 90 persen dan tinggal memasuki tahapan penyelesaian. “Kita masih menunggu finalisasi lay out untuk SEA Games, sekarang kita memang menyiapkan 5 lantai untuk sekretariat, tapi jika kurang akan kita tambah,” ujar Muddai. (*)

Editor: Harismanto | Sumber: Sriwijaya Post
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Penulis : Baharman
BKPM Ajak Perusahaan Dunia Terlibat di SEA Games

PALEMBANG--MICOM: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia akan mengundang Coca Cola , Commonwealth Bank, serta perusahaan kelas dunia lainnya untuk bersinergi dengan program olahraga Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Selatan (Sumsel), khususnya menjelang SEA Games XXVI.

Kepala BKPM Gita Wiryawan mengatakan, pihaknya siap memfasilitasi kerja sama antara Sumsel dan perusahaan dunia yang kerap terlibat dalam sponsor olahraga.

"Investasi Coca Cola besar sekali, kita usahakan agar mereka juga mau program olahraga di Sumsel," ujar Wiryawan, seusai meninjau pembangunan venue di Jakabaring Sport City (JBC), Minggu (10/4).

Selain Coca Cola, tambah Wiryawan, Commonwealth Bank juga bisa diajak sebab perusahaan asal Australia itu sering mengadakan turnamen tenis internasional di Bali. Maka bisa saja turnamen tenis itu tidak di Bali tapi di Sumsel apabila lapangan tenisnya telah dibangun.

Untuk menunjang hal tersebut, Wiryawan juga berharap agar Pemprov Sumsel lebih mensosialisasikan lagi jadi diri sebagai tuang rumah SEA Games XXVI, misalnya melakukan kunjungan keluar negeri sebelum SEA Games dimulai November nanti, agar komunitas internasional dunia mengetahui eksistensi dan prakarsa yang dilakukan Gubernur.

"Momentum SEA Games akan menjadi opportunity branding bagi Sumsel di kancah internasional. Sehingga pesta olahraga itu betul-betul dirasakan komunitas internasional," paparnya.

Menurut Kepala BKPM, selama ini keberadaan Sumsel sebagai tuan rumah SEA Games baru dirasakan rakyat Indonesia, sebagian besar masyarakat Asia Tenggara masih banyak yang belum tahu.

"Jadi perlu ada peningkatan promosi profil Sumsel ke luar, bukan hanya di Asia Tenggara, tapi dunia yang lebih luas," tandasnya. (Bhm/OL-3)
Editor: Aloysius Gonsaga
SRIWIJAYA POST/SYAHRUL HIDAYAT
Pelatih Persija Jakarta, Rahmad Darmawan.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelatih Persija Jakarta Rahmad Darmawan berpeluang menangani tim nasional U-23 untuk SEA Games 2011. Rahmad akan mendampingi Pelatih Kepala Alfred Riedl.

Deputi Bidang Teknis Badan Tim Nasional Iman Arif di Jakarta, Senin (11/4/2011), mengatakan, selain Rahmad, calon pelatih yang akan mendampingi pelatih asal Austria itu adalah Pelatih Persebaya 1927 Aji Santoso.

"Keputusannya nanti hari Kamis (14/4/201) setelah semuanya menemui Satlak Prima. Jadi semuanya belum jelas, apakah mau atau tidak," kata Iman.

Menurut Iman, jika salah satunya terpilih, akan dikontrak selama enam bulan ke depan dan akan langsung menangani Yongky Ariwibowo dan kawan-kawan mulai dari pembentukan karakter di Batujajar, Bandung, yang akan dimulai 1 Mei nanti.

Dari dua calon tersebut, kata dia, yang berpeluang besar menjadi pelatih harian timnas U-23 adalah Rahmad. Hanya saja yang menjadi pertanyaan apakah pelatih kelahiran Bandar Lampung itu bersedia menjadi pelatih harian timnas U-23.

"Banyak pihak telah menyetujui, termasuk dari LPI. Hanya saja semuanya belum diputuskan. Untuk rencana ini kami juga terus berkomunikasi dengan Riedl," katanya menambahkan.

Timnas akan menjalani latihan pembentukan karater building di Batujajar. Setelah itu, mereka langsung menjalani pemusatan latihan di Austria selama tiga bulan ke depan.

Iman pada kesempatan ini juga menepis pernyataan Komandan Satlak Prima Tono Suratman yang menyatakan bahwa terjadi perubahan di kepelatihan timnas U-23 yang akan turun di SEA Games 2011. Timnas baik U-23 dan senior, kata dia, tetap dipegang oleh Riedl sesuai dengan kontrak yang disepakati sebelumnya. Kontrak mantan pemain timnas Laos dan Vietnam itu baru akan berakhir pada Mei 2012.

"Pada pertemuan dengan Satlak Prima tadi kami juga telah menanyakan gaji untuk pelatih harian," kata mantan Ketua BTN itu.

Sesuai dengan standar gaji pelatih yang ditetapkan oleh Satlak Prima, besarnya gaji yang akan diterima oleh pelatih timnas sebesar Rp 50 juta per bulan.

Sementara itu, Rahmad saat dikonfirmasi belum mengetahui dengan pasti posisi apa yang akan ditawarkan karena pertemuannya dengan Satlak Prima baru akan dilakukan Kamis nanti.
You gotta feel for football fans in Singapore. Despite there being plenty of them, most supporting Manchester United, Liverpool or Chelsea, the country does nothing for them.

Take for example the cack handed way the demolition of the National Stadium was handled to make way for a new Sports Hub, god they love that word, hub. They'd be the hub for choc ices if they could.

Anyway Brazil brought a team over yonks ago to play in the National Stadium, to send off the old girl in style. Years later and it was still being used! Meanwhile work had not started on a replacement.

This year sees Chelsea across the causeway and rumours that Liverpool will also be heading there. But Singapore? Nope, not a chance.'Cos there's no stadium big enough to host any team that could boast an away following of more than 1,000.

Now there's news that Tampines Rovers may lose their stadium, possibly relocating to Yishun, to make way for a Tampines Town Hub. You can't make it up, can you?

Of course as of now, no-one knows if the stadium will need to be demolished or whether it will be incorporated into the 'Hub'.

But it's an indication of the importance the government gives football.

We never hear stories of new local stadiums being built. In an election year, with the government handing out cash left right and centre how people relax just ain't important. Plus of course football stadiums don't really encourage people to part with large bundles of cash, not like shopping malls.

The AFC will be visiting Singapore soon. Last year the FAS announced they would not be competing in the Champions league, saying it was more important to prioritise foreign clubs in their league. But that's crap. The league needs a minimum average crowd of 5,000, the SLeague is so far short of that it's laughable even with their inflated figures, and a minimum four stadiums must hold at least 5,000 fans...the SLeague has one.
Bobotoh, fans of Persib Bandung, have asked club officials to be stricter at the turnstiles after they claimed up to 35% of spectators were entering the stadium without buying tickets. Rather, they would slip the turnstile operator a small sum of money and he would let them in.

This is no surprise of course. Even during the AFC Asian Cup which Indonesia co-hosted back in 2007 when security was supposed to be at its most stringent and advance ticket sales archaic, spectators were still able to enter the stadium without having bought tickets.

The Persib fans have also asked that officials don't open the gates at half time as this allows people to enter the stadium for free!

Both practises used to be common in England. My older brother used to nip into Watford at half time without paying while I know of people who have nipped into English grounds by 'taking care' of the man at the gate.
It looks like the Liga Primer Indonesia will be able to finish its first season after the Normalisation Committee, set up by FIFA to sort out the mess in Indonesian football, agreed to recognise the breakaway league. Full story in Jakarta Globe
I've long whined that Indonesian clubs have next to no idea about how to market themselves. This story proves the theory.

Persipura are due to play Chonburi in the AFC Cup on Wednesday night in what promises to be an historic night for the people of Jayapura with the AFC finally approving the Mandala Stadium for international competition. Even though there is no international airport nearby I understand Persipura are hiring a plane for visiting teams.

22,000 tickets have gone on sale for the game and in an ordinary Indonesia Super League game the Black Pearls should have no problem shifting them.

But check these prices, quoted in USD assuming an exchange rate of 9,000 IDR to 1 USD.

VVIP - 110 USD
VIP Class 1 to 4 - 55 USD
VIP Class 5 to 8 - 44 USD
Liverpool Terrace - 33 USD
North/South Terrace - 5.50 USD
Others - 3.30 USD

2,000 tickets have been reserved for the supporters club, Persipuramania.

Hmmm
top