"Saya Ingin MotoGP Kembali ke Indonesia"
Aloysius Gonsaga Angi Ebo |

Share:
KOMPAS.COM/ALOYSIUS GONSAGA AE Direktur Manajer Yamaha Motor Racing, Lin Jarvis.

ASSEN, KOMPAS.com — Direktur Manajer Yamaha Motor Racing, Lin Jarvis, punya impian besar agar MotoGP kembali dipentaskan di Indonesia. Karena itu, dia meminta dorongan dari semua pihak, termasuk tim Honda, agar bisa mendesak Dorna (pemegang hak MotoGP) mewujudkan target tersebut.

Saya berharap, semoga Sirkuit Sentul bisa dimodifikasi atau ada sirkuit baru di Indonesia. Tetapi ini tergantung dari perekonomian Indonesia, dan tentunya Pemerintah Indonesia.
-- Lin Jarvis

"Kami sudah memberitahukan tentang ini secara resmi ke Dorna dan meminta dukungan yang kuat kepada Honda, termasuk dari Yamaha sendiri, agar balapan di Indonesia bisa dilaksanakan secepatnya. Saya berharap semoga Sirkuit Sentul bisa dimodifikasi, atau ada sirkuit baru di Indonesia pada masa mendatang. Tetapi tentunya, ini juga tergantung dari Pemerintah Indonesia," ujar Jarvis, Sabtu (25/6/2011), menjelang balapan MotoGP di Sirkuit Assen, Belanda.

"Jadi, saya minta dukungan dari media dan juga dari industri seperti Yamaha dan Honda, dan juga Federasi Motorsport Indonesia supaya MotoGP bisa segera kembali ke Indonesia."

Jarvis juga berharap ada pebalap Indonesia yang bisa muncul di ajang balap motor dunia, meskipun tidak langsung ke kelas paling bergengsi, MotoGP. Dia berharap para bakat muda Indonesia bisa muncul dulu di kelas paling rendah, Moto3—yang musim depan gantikan kelas 125cc—mendapat perhatian dari Yamaha maupun Honda.

Memang, Sirkuit Sentul pernah menyita perhatian dunia ketika menjadi salah satu penyelenggara MotoGP (waktu itu masih kelas 500cc). Tetapi, itu hanya berlangsung hingga akhir 1997 dan setelahnya MotoGP tak pernah lagi kembali ke Tanah Air.

Dalam kesempatan wawancara di hospitality Yamaha tersebut, Jarvis juga berbicara tentang kondisi timnya sekarang dibandingkan dengan ketika masih ada Valentino Rossi. Menurut dia, saat ini hubungan secara internal sangat harmonis karena tak ada tensi di antara pebalap.

"Sangat berbeda posisinya ketika Jorge dan Valentino satu tim, dibandingkan dengan sekarang, karena ada dua pebalap yang tangguh sehingga terjadi kompetisi yang keras secara internal. Ini memang bagus, tetapi kadang bisa memunculkan situasi yang sulit," ujar Jarvis.

"Tetapi sekarang, Lorenzo merupakan seorang juara dan Spies terus berkembang. Jadi, keharmonisan tim sangat terjaga karena hubungan kedua pebalap baik. Ini adalah hal yang sangat penting untuk keutuhan sebuah tim dalam menjalani kompetisi.

"Mengenai kedudukan kami sekarang (di klasemen), saya sedikit kecewa karena kami akhirnya harus turun. Tetapi hal ini mungkin bagus bagi pebalap karena lebih mudah mengejar dari pada mempertahankan. Apalagi, kompetisi masih sangat panjang."

Berdasarkan kalender, musim ini akan ada 19 seri, dan GP Belanda merupakan seri ketujuh. Dari hasil total balapan tersebut, pebalap Repsol Honda, Casey Stoner, menduduki posisi puncak dengan mengoleksi 136 poin, disusul Lorenzo dengan 108 poin. Sementara itu, Ben Spies, yang menjuarai GP Belanda, kini berada di urutan 6 dengan raihan 61 poin. (Laporan langsung Aloysius Gonsaga AE dari Assen, Belanda)

0 comments:

Post a Comment

top