Menyongsong Fajar di Plaza BKB


Menyongsong Fajar di Plaza BKB



PAGI itu di hari pertama bulan Ramadan. Fajar baru menyingsing, matahari pun seakan masih enggan menampakkan diri. Bahkan hamparan Sungai Musi yang memisahkan Seberang Ulu dan Ilir masih terlihat sayup-sayup mengalir. Namun barisan remaja dan anak-anak nampak bersorak gembira meramaikan beberapa tempat di pusat Kota Palembang. Bundaran Air Mancur, Jembatan Ampera, Kambang Iwak dan Benteng Kuto Besak (BKB) tak luput dari suara gemuruh mereka.

Seperti biasa, kehadiran bulan Ramadan nun penuh berkah selalu disambut gembira kaum muslimin di dunia, termasuk wong kito Palembang. Berbagai aktivitas dan kegiatan pun digelar seiring berjalannya waktu menempa diri di bulan puasa itu. Tak terkecuali jalan-jalan santai usai melaksanakan salat subuh atau yang dikenal banyak orang dengan asmara subuh.

Entah dari mana sebutan itu muncul. Tapi itulah kalimat yang identik dengan perjalanan santai muda-mudi remaja menjelang pagi hari setelah sahur. Meskipun pada kenyataannya aktivitas itu juga tidak hanya dilakukan remaja saja. Anak-anak kecil hingga orang dewasa pun tidak sedikit ada di barisan mereka.

Kegiatan yang sudah menjadi tradisi tahunan ini pun kembali mewarnai kedatangan Ramadan 1431 Hijriah, Rabu (11/8) subuh. Ribuan warga dari berbagai kalangan usia, sejak pukul 04.30 ramai mendatangi pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) dan Jembatan Ampera. Lalu apa sebenarnya asmara subuh itu, dan mengapa banyak warga yang gemar melakukannya? Rini, salah satu remaja kelas 3 SMP mengaku sangat senang bisa menjalani aktivitas tersebut. Bersama teman-temannya yang lain ia berangkat dari rumah sekitar pukul 04.30, berjalan menuju pelataran Benteng Kuto Besak (BKB). Ia sendiri tidak menyadari manfaat yang didapat melalui asmara subuh. Namun lantaran sudah menjadi kebiasaan, meski tanpa komando ia terpanggil menjadi bagian dari aktivitas itu.

“Sepengetahuan saya, asmara subuh itu identik dengan orang berpacaran. Tapi mas bisa lihat sendiri di antara ribuan orang di sini hanya beberapa saja yang pacaran. Kami sih niatnya lebih ke olahraga,” tukasnya.

Apa yang dikemukakan remaja asal Tanggabuntung ini, cukup menjadi bukti kalau ternyata asmara subuh itu tidak hanya diikuti remaja yang berniat bertemu dan pacaran semata. Sebab sebagian besar dari mereka melakukannya dengan alasan olahraga dan mengikuti tradisi yang sudah ada sejak lama.

“Sederhananya, kita ada di sini cuma sekedar jalan-jalan dan bertemu kawan-kawan. Lagi pula habis makan sahur udah nanggung kalau mau tidur. Mending jalan sekalian olahraga,” kata Arif salah seorang lainnya. (eko)

0 comments:

Post a Comment

top